BUKAN UNTUK UMUM

Adverst

Yahudi telah terpecah menjadi 71 kelompok.  Nashrani telah terpecah menjadi 72 kelompok. Sedangkan umatku nanti akan terpecah
menjadi 73  kelompok.  Semuanya di neraka, kecuali satu saja.
” Beliau  ditanya:“Siapa yang selamat itu, wahai Rosululloh?”
Beliau  menjawab: “Apa yang aku dan para  sahabatku  
berada di  atasnya.”  Dalam  riwayat lain beliau
menjawab: “Ia adalah al-jama’ah.”
(Hadits riwayat Imam At-Tirmidziy)

Berangkat tepat matahari menampakkan dirinya di ufuk timur menuju tempat yang lazimnya kebanyakan orang hindari, “Kantor Pajak”. Bangunan kantor yang berada di tengah-tengah Kota Makassar yang juga merupakan lumbung deretan digit mata uang rupiah yang menghidupi negara, “bukan untuk maling berpendidikan”. Jarak tempuh kurang lebih delapan kilo meter dari titik beranjak. Sebagai Wajib Pajak (WP) yang patuh terhadap kewajiban perpajakan sudah semestinya memenuhi semua persyaratan yang telah ditentukan, baik dari pelaporan, pembayaran dan admnistrasi lainnya.

Pada suatu ketika saya ingin meng-upload faktur pajak karena persyaratan penagihan ke lawan transaksi, tiba-tiba muncul peringatan “ Etax- 4001: Tidak dapat menghubungi E-TaxInvoice Server Anda harus terhubung dengan Internet untuk mengakses service”, padahal koneksi internetnya sudah bagus, dan ini muncul setiap kali saya mengklik kata star uploader. Saya pun mencoba mencari solusi sampai harus menghubungi  Account Repsentatif (AR), dan menurut keterangan AR Sertifika E-Faktur-nya sudah kadaluwarsa dan harus diupdate lagi. Untuk mengupdatenya WP harus mengajukan surat permohonan dan kelengkapan-kelengkapan lainnya. Yah, begitulah administrasi umumnya di Indonesia, masih kaku, padahal data WP sudah teverifikasi secara online di data base Direktorat  Jendeal Pajak (DJP). Saya pun bergerak cepat untuk melengkapi persyaratanya karena E-Faktur-nya harus dikirim segera ke lawan transaksi.

Setelah melengkapi seluruh persyaratan, lalu saya mengambil antrian D khusus untuk antrian E-Faktur. “Antrian D 20 silahkan ke counter 7” suara merdu yang tidak asing lagi memberi komando menghadap ke pelayanan yang berjejer di depan barisan antrian. Setelah berada di hadapan petugas kemudian menyerahakan seluruh persuratan pengajuan E-Faktur. Namun, setelah petugas mengecek kelengkapannya, ternyata masih ada persyaratan yang belum lengkap.

“Surat pernyataan bermaterai belum ada pak?” tanya petugas pelayanan dengan senyum yang menghiasi wajah yang masih nampak ngantuk, mungkin saja dia kurang tidur atau setidaknya belum sempat menyeruput kopi pagi. “KTP, KK, NPWP di potocopy juga yah pak” perintahnya sambil menyedorkan berkas tersebut.

“Baik pak, yang mana lagi belum lengkap pak” tanyaku dengan wajah yang sedikit tegas. “Itu aja pak, setelah itu kmbali lagi kesni.” Saya pun bergegas untuk melengkapi persyaratan yang masih saja luput dari pengamatanku.

Setelah mengisi form surat pernyataan dibubuhi tandatangan terstempel lengkap dengan materai 6000. Selanjutnya saya harus ke tempat mesin fotocopy beriring  jarum arloji mununjuk an angka 11.37, sebebentar lagi waktu shalat Dzuhur menyeru. Ketika tiba di depan tempat fotocopy yang masih berada dalam area kantor pajak, ternyata banyak juga yang antri, dan menyedihkan mereka antri di depan tempat fotocopy dengan status tertutup, penguasanya belum datang. Saya pun bergerak cepat mencari tempat fotocopy yang lain, dan ternyata tempat fotocopy tadi itu satu-satunya di kawasan kantor pajak.

“Di mana lagi saya harus mencari, sementara saya harus bergeser dari area itu karena ada tugas lain yang harus dituntaskan” pikiranku berkelindan ke mana-mana.

Shalawat di masjid yang menandakan dekatnya waktu adzan Dzuhur, sementara saya belum melengkapi berkasnya. Saya berinisiatif masuk ke tempat antrian semula, sambil menengok ke berbagai arah dalam kantor tersebut berharap menemukan mesin  fotocopy, minimal printer yang dilengkapi scan dan fotocopy. Tiba-tiba di dekat tangga samping kanan ada lorong menuju ruang khusus petugas pajak dan saya melihat ada mesin potocopy di sana. Saya pun bergegas menghampiri mesin yang saya cari-cari. Ketika mendekat saya memperhatikan mesin itu apakah turn on dan bisa digunakan. Namun seketika melihat tulisan yang menempel di dinding persis di samping mesin itu tertulis peringatan “Bukan Untuk Umum”. Peringatan itu membuatku berpikir sejenak, apakah peringatan ini untuk fotocopy atau untuk ruangan khusus ke dalam lagi? Karena buru-buru saya mengabaikan peringatan itu dengan dalih mungkin untuk masuk ruangan khusus tidak untuk fotocopy, jadi saya bisa menggunakan mesin ini.

Setelah menarik berkas yang harus difotocopy dari tas ransel yang diselipi  dengan map plastik putih. Saya pun mencoba mengoperasikan mesin itu layaknya tukang fotocopy  yang ahli. Beberapa kali saya coba pencet ini pencet itu tidak membuahkan hasil. Tetiba seorang wanita mengenakan baju berwarna biru sama dengan warna baju pegawai-pegawai di kantor itu, berjalan entah dari mana mendekati ruangan dekat mesin itu berada.

“Tidak bisa digunakan itu pak,” sapaan yang manis mungkin saja dia bisa membantuku.

“Rusak atau bagaimana ibu?” Tanyaku dengan nada berharap bantuan.

Sontak wanita itu yang tidak lain adalah pegawai pajak disitu, “BUKAN UNTUK UMUM Pak” dengan nada sinis dan tajam menusuk ke kotak-kotak pikiranku dan menghujam sensitifitas gumpalan jantung. Jawaban yang tidak kuharapkan tiba-tiba menancap.

“Oh gitu yah bu,” tukasku sambil menatap tajam tepat ke kedua bola mata ibu itu, berharap dia mengubah jawaban yang baru saja membuatku terkejut. Dengan menunjukkan mimik keangkuhannya, ibu itu langsung saja menuju ruang khususnya tanpa menyisakan harapan bagiku.

Saya pun beranjak dari tempat itu sambil mengucapkan kata-kata yang nampak kesal berharap semua pegawai mendengarnya. “Luar biasa kantor pajak ini, fotocopynya bukan untuk umum, fotocopy itu ada dan dibeli bukan dari uang pribadi pegawai ataupun kepala kantornya, melainkan dari uang wajib pajak (baca: rakyat), dari uang kami yang taat bayar pajak. Mencetak tiga lembar saja kami tidak bisa gunakan fotocopy itu,” suaraku semakin meninggi hingga titik akhir kata dan menjadi pusat perhatian para pegawai, seketika sunyi senyap tak ramah.

Patut dipahami bahwa ada sifat yang melekat dan menjadi alasan fundamental sehingga pajak bukan mainan para birokrat. “Pajak dari rakyat untuk rakyat.” Pajak berupa pengalihan harta perseorangan atau perseroan yang bersifat memaksa,  berarti jika seseorang  sudah memenuhi syarat subjektif maupun syarat objektif, maka  wajib untuk membayar pajak. Dalam Kitab Undang-Undang Perpajakan (KUPP) sudah dijelaskan secara definitif bahwa jika Anda dengan sengaja tidak membayar pajak yang seharusnya Anda bayarkan, maka ada sanksi administratif maupun hukuman secara pidana. Dan,  ketika Anda sudah membayar pajak dalam jumlah tertentu, Anda tidak langsung menerima manfaat dari pajak yang Anda bayar. Namun yang Anda dapatkan berupa perbaikan jalan raya, fasilitas kesehatan, beasiswa pendidikan, Infrastruktur dan fasilitas umum lainya, termasuk mesin fotocopy yang ada di ruang kantor birokraksi yang dibeli dari uang operasional kantor, dan uang operasioanal itu berasal dari satu sumber yaitu uang pajak rakyat.

Kejadian seperti ini sering saya alami dan orang lain pun pernah megalaminya. Teringat pula beberapa bulan lalu, saya berada di salah satu lembaga di kampus, hal serupa juga terjadi hanya objeknya saja yang berbeda. Hal ini bermula pada waktu saya ingin mengurus persuratan dan ada beberapa surat yang perlu ditandatangani. Kebetulan waktu itu pejabat kampus yang harus bertandatangan sedang berada di luar menurut keterangan salah satu pegawainya.

“Silahkan menunggu dulu dek, Bapak masih di luar,” seru salah satu staf waktu  itu dengan menunjuk sudut ruang yang dipenuhi kursi-kursi besi sedikit berkarat.

“Kira-kira Bapak masih lama di luar ibu yah?” tanyaku dengan mengumbar sedikit senyum yang dipaksa manis.

“Kurang tau juga dek biasanya cepat biasa juga lambat,” jawaban yang paling saya hindari, jawaban yang tidak jelas seperti ini.

Beranjak ke tempat yang telah ditunjukkan ibu itu, sebut saja “Ruang Tunggu”. Setengah jam kemudian Bapak Pejabat belum saja menampakkan dirinya. Seorang staf lainya menghampiriku, “Kak suratnya bisa dititip saja di ruangannya Bapak, besok ke sini lagi karena Bapak belum datang, nanti kelamaan menunggunya,” kata pegawai dengan menyedorkan segelas air putih yang terlihat grogi dihiasi dengan senyum disusul garis manis di ujung bibirnya.” Sepertinya dia pegawai baru, usianya tidak jauh beda dengan usiaku.

“Tidak apa-apa dek, saya menunggu saja, kalau Bapak belum juga datang, besok saya kembali lagi kesini,” alasan yang cukup jantan, padahal pekerjaan di luar sedang menunggu eksekutornya. Mungkin karena yang menghampiri tadi pegawai muda, seandainya ibu tadi itu yang menghampiri saya, besar kemungkinan tanggapannya akan berbeda.

Mengapa kemudian saya tidak mengikuti saran staf itu dan memilih untuk menunggu? “Jangan pernah titip surat kecuali dalam keadaan darurat”. Berdasarkan pengalaman sebelum-sebelumnya di beberapa perkantoran baik kampus, perusahaan, apalagi pemerintahan kalau suratnya dititip yakin dan percaya prosesnya lebih lama lagi, untung kalau ditandatangani kalau suratnya tiba-tiba hilang dan jejaknya tidak dapat ditelusuri, urusannya lebih lama lagi kecuali disedorkan beberapa lembar alat pelicin biasa orang sebut tip,  tetapi istilah itu berkamuflase menjadi “uang administrasi”, dan konon katanya sudah menjadi budaya setaniah birokrasi di Negeri ini.

Setelah beberapa jam menunggu sambil membuka buku catatan merah dari tas kerenku, Bapak pejabat yang terhormat belum juga muncul. “Ibu, toiletnya di mana yah?” tanyaku sembari menahan saluran pembuangan air kemih.

“Di lantai dasar dek, di depan ruangan ini toilet umum sementara direnovasi,” respon yang baik di tengah kesibukannya tetapi cukup mengagetkan. Beberapa menit lalu sebelum masuk ruangan khusus pegawai yang sejuk penuh AC itu, saya sudah memperhatikan sudut-sudut ruangan itu sambil melirik-lirik toilet  yang persis berada di depan pintu masuk ruangan khusus pegawai. Yah, memang masing-masing di pintu toilet itu ada tulisan keren senada dengan tulisan di kantor pajak, “Toilet Umum” dan “Toilet Khusus Pegawai.” Keren kan?  Karena toilet umumnya sedang direnovasi jadi yang tersisa toilet khusus pegawai, jadi kalau anda bukan pegawai meski air kemih itu tidak mampu lagi ditahan, maka silahkan cari toliet lain yang terdekat, kalau tidak ada silahkan melangkah secepatnya ke ruangan-ruangan lain cari yang ada tulisannya “Toilet Umum” yakin dan percaya kalau anda menemukan sejenis “Toliet Khusus Pegawai” anda harus punya kunci pintunya terlebih dahulu, dan kalau anda mau kunci pintu toiletnya  anda harus jadi pegawai khusus dulu.

Inilah tatanan manusia zaman sekarang cenderung mengkotak-kotakkan, membagi-bagi manusia ke dalam beberapa golongan, ada khusus ada umum. Bukankah kita adalah mahluk yang berasal dari satu pencipta, diciptakan dengan unsur-unsur yang sama, dan akan kembali kepada pencipta yang sama?  Sumber pesoalan di dunia ini sengaja dan tidak sengaja memang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Manusia yang cenderung mengolong-golongkan dan memisahkan diri secara langsung maupun tidak akan membentuk pola pikir dan persepsi mana yang inferior mana yang superior. Satu golongan akan merendahkan golongan yang lain dan golongan yang lain merendahkan golongan yang lain pula atau balik menyerang golongan yang merendahkan. Masing-masing golongan saling menyerang dan mengklaim kebenaran seolah golongannyalah yang harus benar dan yang lain salah. Inilah proses yang terjadi secara terus-menerus dan akan membentuk banyak golongan lain lagi. Dalam satu golongan saja banyak perdebatan yang bisa menghancurkan, ego individu yang saling menyerang untuk berkuasa di golonganynya, apalagi banyak golongan (banyak paham).

Proses identifikasi (mengolong-golongkan) yang baik disadari maupun tidak disadari inilah menjadi sumber perpecahan dan permusuhan. Penajaman identitas, pengagungan identitas tunggal, sifat eksklusif terhadap identitas lain, ketidakterbukaan pikiran dan mata terhadap berbagai identitas, dan berakhir pada pemutlakan identitas adalah bendera merah (red flag) rusaknya sebuah peradaban manusia. Perbedaan identitas agama, budaya, suku, ras, bangsa, jabatan, pekerjaan, komunitas adalah rahmatan lil alamin. Perbedaan di kalangan umat manusia adalah rahmat yang harus disikapi dengan arif dan bijaksana, melihat kemajemukan identitas sebagai keping-keping perekat kesempurnaan kehidupan, serta mengembalikan semua perbedaan dan keragaman kepada esensi manusia yang penuh kasih sayang.

Maka dari itu, menjadi penting untuk menghindari hal-hal kecil yang bisa menghacurkan pola pikir dan laku kita. Kita harus memahami esensi dari eksistensi manusiawi sebagai mahluk yang sama dan tujuan akhir manusia adalah kembali kepada pemilik semesta. Pejabat, pegawai atau birokrasi hanyalah jabatan duniawi yang dititipkan Tuhan kepada manusia untuk eksis di bumi sebelum berlabuh ke hari yang abadi. Jadi behentilah mengolong-golongkan, apalagi membeda-bedakan yang dasarnya adalah sama. Tidak ada lagi “Toliet Umum, Toilet Khusus, dan Tempat Fotocopy Bukan Untuk Umum” apalagi belinya pakai uang rakyat. Semua dapat digunakan bersama untuk “Kebaikan Besama.” Bonum commune (kebaikan bersama) dalam istilah Sokrates sebagai cita-cita publik yang secara berkelanjutan terus diwujudkan.

Jumardi @Manusialasiai

Bumi Panrita
About Bumi Panrita 86 Articles
Manusia Bugis

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*