ESENSI KHUTBAH JUMAT

Adverst


Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Tuhan (Allah SWT) itu ada dan dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita.” Hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabaraktu

Hari Jumat merupakan hari yang sakral bagi Ummat Muslim, tetapi bukan berarti hari lain itu profan. Aktivitas rutin yang menjadi kewajiban ummat Islam untuk menunaikan ibadah suci “Shalat Jumat” atau disebut ibadah haji kecilnya kaum muslim. Sejarah awal mula munculnya perintah shalat Jumat, dimulai ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya Abu Bakar al-Shiddiq dalam perjalanan hijrah yang menegangkan dan mengharukan singgah di Quba, kota kecil berjarak kira-kira tujuh kilometer dari kota Madinah. Di kota kecil itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal selama empat hari. Di sana, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berjumpa dengan para sahabatnya yang sangat setia seperti Umar ibn Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan para sahabat yang lain.  

Selama tinggal di Quba, beliau dengan para sahabatnya yang terdiri dari para muhajir (orang-orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah) dan penduduk Quba membangun suatu masjid yang disebut dengan Masjid Quba. Itulah masjid yang pertama kali dibangun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  dan para sahabatnya, yang ditegakkan atas dasar takwa kepada Allah. 

Dalam ulasan KH. Zakky Mubarak, menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  sampai di Quba pada hari Senin, setelah tinggal selama empat hari dan telah selesai membangun masjid yang pertama kali didirikan itu, beliau dan para sahabatnya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke kota Madinah yang selama ini menjadi tumpuan harapan. Pada hari Jumat pagi sekali, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  dan para sahabatnya berangkat menuju Yatsrib atau Madinah. Menjelang memasuki kota Madinah pada kilometer empat, beliau sampai di suatu lembah bernama Wadi Ranuna milik keluarga Bani Salim ibn Auf, di tempat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  dan rombongan melakukan shalat Jumat atas perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Itulah shalat Jumat pertama yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Perintah shalat Jumat tertera dalam Al-Qur’an Surah Al-Jumuah: 9.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat kepada Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al Jumuah: 9)

Menurut sebagian riwayat, kata Jumat diambil dari kata jama’a yang berarti berkumpul, perjumpaan atau bertemunya Nabi Adam dan Hawa di Jabal Rahma. Sebagian riwayat juga mengartikan Jumat sebagai hari berkumpulnya umat muslim untuk melaksanakan kebaikan. Pendapat lain mengatakan bahwa di hari itu Allah subhanahu wa ta’ala telah selesai menciptakan seluruh alam semesta selama enam hari dan hari terkahir penciptaan itu dinamakan Jumat. Dari keterangan beberapa riwayat tersebut menunjukkan bahwa hari Jumat adalah hari yang begitu sakral bagi ummat Islam.

Menurut sebagian riwayat, kata Jumat diambil dari kata jama’a yang berarti berkumpul, perjumpaan atau bertemunya Nabi Adam dan Hawa di Jabal Rahma. Sebagian riwayat juga mengartikan Jumat sebagai hari berkumpulnya umat muslim untuk melaksanakan kebaikan. Pendapat lain mengatakan bahwa di hari itu Allah telah selesai menciptakan seluruh alam semesta selama enam hari dan hari terkahir penciptaan itu dinamakan Jumat. Dari keterangan beberapa riwayat tersebut menunjukkan bahwa hari Jumat adalah hari yang begitu sakral bagi ummat Islam.

Shalat Jumat merupakan simbol persatuan ummat Islam dalam upaya taqarrub ilallah tanpa memandang pangkat, derajat, warna kulit, bahasa, dan perbedaan sosial lainnya. Shalat Jumat juga dianggap sebagai pertemuan mingguan, karena hari Jumat inilah umat muslim dipertemukan, mereka dapat saling bersilahturrahmi, bertegur sapa, saling menjalin keakraban.

Melaksanakan shalat Jumat bukan sekedar ibadah rutinitas yang tanpa makna dan hikmah. Beribadah dalam Islam tidak hanya sebatas bersifat individual tetapi juga memiliki tendensi sosial. Selain mendekatkan diri dengan Allah subhanahu wa ta’ala, juga menyatukan kebersamaan antar muslim dengan beragam perbedaan latar belakang yang akan menciptakan tatanan sosial yang damai.  

Rangkaian ibadah Jumat ini tentu tidak asing lagi di semua kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Yang menarik dari ibadah shalat Jumat dibanding ibadah shalat wajib lainnya, yaitu khutbah Jumat, yang menjadi keistimewaan khusus yang disampaikan oleh ahli agama, atau biasa disebut Khatib.

Setiap khatib dapat menyampaikan khutbahnya, baik secara normatif berdasarkan tekstual kitab suci maupun secara realitas kontekstual. Apa sebenarnya tujuan dari khutbah yang terus berulang dilakukan oleh khatib setiap Jumat? Apakah hanya sekedar rangkaian ibadah shalat Jumat atau memiliki esensi dan tujuan yang mulia?

Secara normatif, khutbah atau sebut saja dakwa yang disampaikan khatib merupakan bentuk kewajiban umat muslim untuk saling mengingatkan dalam iman dan takwa, makanya setiap khutbah pertama khatib selalu menyampaikan “ittakullah hakka tukati wala tamutunna illa wa antum muslimun”. Maknanya, bahwa kita selalu diingatkan untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala di mana pun kita berada dan dalam kondisi apapun. Setiap Jumat khatib selalu menyuarakan kalimat ini agar ketakwaan dan keimanan kita tidak akan pernah pudar apalagi lenyap, dan senantiasa dalam keadaan bugar. Khatib tidak bosan-bosannya menguraikan tentang Islam dan Iman, meskipun telah berulang atau repetitif disampaikan oleh khatib yang berbeda. Inti dari khutbah adalah bagaimana sesama muslim untuk terus saling mengingatkan tentang keimanan, keselamatan, dan kebenaran dalam rangka memelihara hubungan kepada Sang Khalik.

Jadi, khutbah tidak hanya sekadar memenuhi rangkaian ibadah Jumat yang hampa, akan tetapi memiliki esensi yang transendental spiritualis, dan memiliki tujuan yang sangat fundamental dalam kehidupan sosial. Tujuannya tentu ingin membangkitkan semangat berislam, senantiasa mengingatkan ajaran-ajaran islam yang utuh, senantiasa memiliki jiwa spiritual yang tak pernah redup, ajang refleksi mingguan, serta terus mengarah pada peningkatan religiusitas menuju tujuan akhir hidup yaitu kematian dan kebangkitan menuju Tuhan.

Selain isi dan tujuan transendental di atas, khutbah pada dasarnya memiliki tujuan horisontal dalam bingkai memelihara hubungan antar sesama muslim dan menjaga keteraturan tatanan sosial. Oleh karena itu, khatib dituntut menyampaikan isi khubah yang menyangkut habluminannas. Namun, menyimak dari isi khutbah yang disampaikan khatib dari Jumat ke Jumat mayoritas hanya terkonsentrasi pada tataran ibadah ritus, seperti shalat, ibadah haji, puasa, dan lain-lain, yang terbatas pada habluminallah. Islam seolah diterjemahkan dalam kerangka ibadah ritual transenden tentang zat-zat Tuhan, sifat-sifat Tuhan, perbuatan Tuhan, dan kewajiban manusia kepada Tuhan Sang Pencipta. Sangat jarang khatib mengantarkan khutbahnya yang menyentuh pemasalahan realitas sosial masyarakat seperti kemiskinan, penindasan, dan ketidakadilan sosial yang membelenggu umat manusia. Islam yang saya pahami, pada dasarnya Iman selalu beriringan dengan amal perbuatan. Kualitas iman seorang muslim senantiasa terjewantahkan dalam aktivitas keseharian dalam hal ini amal shaleh. Islam tidak mengajarkan kita hanya terbatas pada wilayah ibadah ritual, tetapi juga mengajarkan bagaimana kemudian Islam terwujud dalam realitas sosial.

Kecenderungan muslim saat ini seolah-olah memiliki presepsi parsialitas terhadap ajaran Islam, apalagi pemikiran sudah tersentuh dengan paradigma duniawi yang rasionalistik dan empirisme, yang mengasumsikan bahwa peran Tuhan sudah mati dan alam berkerja berdasarkan hukum-hukumnya. Sehingga muncullah manusia-manusia sekuler yang memisahkan agama dan realitas kehidupan duniawi, ummat Muslim juga tidak ketinggalan turut andil terhadap pengaruh paham tersebut. Agama dipandang sebagai urusan individu dengan Tuhannya, agama tidak dijadikan rujukan terhadap masalah sosial, dan agama dianggap sebagai penghalang kemajuan dunia karena banyaknya norma yang harus dipatuhi. Pemahaman-pemahaman seperti ini merupakan pemahaman yang dangkal dan kelam, tidak sesuai dengan substansi ajaran agama.

Bukankah Al-Quran secara tegas menyeru orang-orang beriman untuk melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh (kaffah)? Sebagaimana firman Allah  subhanahu wa ta’ala :

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Dalam kitab tafsirnya at-Tahriri wat-Tanwir, Ibnu Asyur menjelaskan bahwa ayat tersebut tidak dapat dipisahkan dari konteks ayat sebelumnya. Ayat ini disebut setelah ayat sebelumnya menjelaskan tentang macam-macam sikap manusia terhadap agama (Islam); ada orang mukmin yang lisannya fasih syahadat kepada Allah subhanahu wa ta’ala tetapi perilakunya membuat kerusakan dan menyakiti apa yang ada di sekitarnya; sebagian yang lain mengabdikan dirinya untuk mendapat keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala . Tindakan merusak dan menyakiti ini tentu dapat mengancam orang-orang yang damai. Dengan demikian, menjadi seorang muslim itu harus total, total dalam berhubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala (hablum minallah) dan total dalam berhubungan dengan sesama (hablum minanas) serta lingkungannya. 

Dalam ajaran teologi klasik, hanya berbicara masalah ketuhanan dan kewajiban manusia terhadap Tuhannya. Sehingga, pemikir Revolusi Muslim Mesir Hassan Hanafi pun melakukan kritik habis-habisan terhadap teologi klasik (tradisional) dengan menawarkan Teologi Revolusi. Teori revolusinya ini merekontruksi teologi klasik yang tidak terbatas pada ajaran-ajaran tentang ketuhanan, tetapi merambah ke tatanan sosial. Pengaruh teologi Hanafi sangat kuat, sehingga menjadi banyak rujukan dan melahirkan teologi-teologi baru, seperti teologi sosial dan teologi pembangunan

Teologi Hassan Hanafi lebih berfokus pada tindakan praktis daripada hanya sekadar teori yang hampa tanpa implementatif yang nyata.Teologi Hanafi lebih berfokus pada realitas empiris ketimbang formula-formula deduktif. Meskipun, pemikiran Hanafi banyak ditentang oleh kalangan-kalangan ortodoks dengan  stigma “Islam Kiri”. Mengenai ajaran teologi Hassan Hanafi dan pemikir lainnya,  saya akan ulas pada lembaran esai yang akan datang. 

Pada abad kejayaan dunia Islam banyak melahirkan saintifis, Islam menjadi pioner kemajuan peradaban, memiliki warisan pengetahuan yang sangat kaya di berbagai bidang keilmuan. Namun, setelah abad pertengahan kejayaan Islam mengalami dekandensi dan berada jauh di belakang Barat, karena Islam dianggap tidak mampu menjawab tatangan zaman dan menangkap realitas konkret, di mana para pemikir Islam hanya terpaku pada ajaran Islam yang sifatnya ritual serta perubahan metode pemikiran dari induktif ke deduktif normatif, di samping efek perebutan kekuasaan (penyebab kerajaan terpisah-pisah) dan perang salib (menggunakan berbagai dimensi pertempuran politik, ekonomi, dan keagamaan) pada masa itu. Terlebih lagi setelah jatuhnya kota Bagdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri khilafah Abbasyiah, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam, karena kota Bagdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan lenyap dibumihanguskan oleh pasukan kerajaan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan.

Oleh karena itu, untuk membangkitkan kembali kejayaan Islam, ajaran Islam tidak hanya terbatas pada tatanan transenden, tetapi juga harus menyentuh realitas sosial. Islam pada masa kenabian sampai abad pertengahan sangat empirikal induktif yang menyentuh realitas-realitas objektif. Al-Qur’an sendiri awalnya sangat kontekstual induktif, merespon realitas, keadaan yang riil empirik dari tatanan sosial dan budaya. Begitupun Hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan refleksi dan respon terhadap fakta-fakta realitas empirik. Dengan demikian, teks Al-Qur’an dan Hadist tidak hanya menjadi himpunan formula-formula deduktif semata yang kehilangan realitas empiris.

Ajaran monoton dan tidak berkemajuan seperti ulasan di atas yang membelenggu sebagian besar masyarakat Islam zaman sekarang. Ketika kemiskinan, penindasan, ketidakadilan masih saja merajalela seolah-olah masalah tersebut adalah masalah pribadi, bukan tugas dari Islam. Padahal, Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat jelas perintah dan anjurannya “habluminallah wahabluminannas.” Selain melaksanakan kewajiban ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, di sisi lain hubungan kepada manusia juga menjadi kewajiban yang tak bisa diabaikan. Islam sangat visioner dalam membangun hubungan antar sesama manusia.

Sebagai contoh, kita pahami bersama bahwa naik Haji adalah rukun Islam kelima wajib bagi orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan ke Baitullah. Di era sekarang kemudahan fasiltas naik Haji patut disyukuri, sehingga banyak di antara umat Islam yang melakukan perjalanan haji berkali-kali. Namun, di balik kemudahan fasilitas itu ada sesuatu yang justru mengkhawatirkan menurut sebagian ulama. Almarhum KH. Ali Mustafa Yaqub termasuk ulama yang mengkritik fenomena haji berkali-kali, menurutnya lebih baik mendermakan ongkos haji untuk menyejahterakan kaum lemah (dhu’afa), ibadah sosial lebih baik daripada ibadah individual. Selain itu, Imam Al-Ghazali sedari dulu menegaskan dalam kita Ihya Ulumuddin, yang menjelaskan panjang lebar mengenai tipu daya. Siapa saja bisa terpedaya, baik sufi, orang berilmu, maupun pemilik harta, di antara bentuk tipu dayanya adalah:

“Mereka bersikeras mengeluarkan harta untuk pergi haji berulang kali dan membiarkan tetangganya kelaparan. Ibnu Mas’ud berkata, pada akhir zaman banyak orang naik haji tanpa sebab. Mudah bagi mereka melakukan perjalanan, rezeki mereka dilancarkan, tetapi mereka pulang tidak membawa pahala dan ganjaran. Salah seorang mereka melanglang dengan kenderaanya melintasi sahara, sementara tetangganya tertawan dihadapanya tidak dihiraukannya.”

Mereka mengira dengan menghabiskan harta untuk naik haji berulang kali itu dianggap lebih mulia di sisi Allah, ketimbang mendermakan harta untuk fakir miskin. Padahal, ibadah sosial (mendermakan hartanya) lebih mulia daripada melakukan perjalanan haji berkali-kali. Inilah salah satu tipu daya bagi orang berharta menurut Imam Al-Ghazali.

Begitulah Islam dengan kemuliannya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia. Inilah yang perlu dipahami oleh khatib atau alim ulama dalam menyampaikan isi khutbahnya, tidak terbatas pada ibadah ritus kepada Tuhan, tetapi bagaimana menyebarkan substansi Islam yang memiliki nilai-nilai humanis, berkeadilan, persaudaraan, egalitarian, dan kedamaian. Khatib atau alim ulama harus lebih jeli dalam menangkap realitas sosial, ekonomi, maupun politik, kemudian menemukan kontekstualitasnya dalam wawasan Al-Qu’an dan Hadist. Sehingga dapat mewujudkan tatanan sosial yang kuat, teratur, tentram, dan damai. Agama tidak hanya mengajarkan tentang shalat, ibadah haji, puasa atau ibadah ritus lainnya, tetapi juga mengajarkan bagaimana Iman itu terwujud dalam amal perbuatan. Iman tanpa amal hanyalah ruang hampa yang tidak memiliki makna dan kehilangan fungsinya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabaraktu

~Islam itu Indah dan Damai~

Author: Jumardi dari Bumi Panrita Kitta

Bumi Panrita
About Bumi Panrita 86 Articles
Manusia Bugis

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*