TRADISI LITERASI DALAM KELONG “ALAMA SEA – SEA”

Adverst

Dok: Ruang Abstrak Literasi
Dok: Ruang Abstrak Literasi

Alama sea sea mua
Tau na ompori sesse kale
Nasaba ri wettu baiccu’ na
De’ memeng na engka ma’guru

Baiccu’ ta mitu na wedding issiseng
Narekko matoani masussa ni
Nasaba Maraja nawa-nawa ni
Enrengnge pole toni kuttu’e


Sejak kecil kita selalu mendengar lantunan kelong “alama sea sea”, nyanyian yang penuh semangat dan visioner. Sebuah kelong yang orang tua dan guru Sekolah Dasar (SD) kita selalu lafalkan di setiap kesempatan luang. Waktu kecil mungkin kita belum menyadari makna yang terkandung dalam lagu itu, kita hanya mendengar kemudian menghafal dan ikut bernyanyi bergembira. Ada juga di antara kita yang mendengar lagu itu sebagai pengantar tidur laiknya dongeng penyejuk buaian.

Sampai sekarang, di antara kita masih ada yang menghafal lagunya atau masih tampak samar dalam ingatan, atau masih tergiang semu di telinga kita suara orang tua, nenek, ataupun ibu guru. Namun, di antara kita juga belum ada yang mengetahui asal usul lagu itu atau siapa yang menciptakan atau menutur pertama kali lagu itu. Sejarah lagu itu masih menjadi misteri yang tidak kita ketahui hingga sekarang. Apakah ia lahir dari budaya tutur turun temurun nenek moyang kita atau ia sekadar warisan kelong yang memiliki misi kehidupan bagi masyarakat tertentu.

Saya sudah mencoba mencari referensi teks yang akurat tentang lahirnya kelong ini, namun hasilnya nihil. Mungkin saja ada di antara kita yang mengetahui baik dari sumber teks ataupun sumber lisan. Sebaiknya kita berbagi.

Kesempatan kali ini saya tidak mengulas sejarah munculnya kelong ini, karena keterbatasan referensi mengenai kelong tersebut. Namun di ruang terbatas ini, saya ingin menggali makna atau pesan (pappaseng) dalam lirik-lirik lagu tersebut yang mengandung pesan urgensi untuk belajar, atau dalam konteks kekinian kita sebut dengan ‘literasi’.

Pada empat larik pertama:

Alama sea sea mua (Alangkah sia-sianya), Alama sea sea mua (Alangkah sia-sianya) , Tau na ompori sesse kale (Hidup manusia yang dilanda penyesalan), Nasaba ri wettu baiccu’ na (karena di masa kecilnya), De’ memeng na engka ma’guru (Tidak pernah belajar)“.

Lirik  lagu di atas, bercerita tentang penyesalan seseorang yang tidak pernah belajar di masa kecilnya. Mencermati lagu ini, sesungguhnya mengandung makna dan pesan (pappaseng) tentang pentingnya belajar (ma’guru) atau dalam lingkup lebih luas dikenal dengan menuntut ilmu atau bergelut di dunia pendidikan. Belajar atau menuntut ilmu adalah sebuah proses yang harus dilalui dari masa kecil hingga tua atau tiba pada masa meninggalkan alam dunia fana. Tentu ini juga beriring dengan anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  untuk menuntut ilmu dari buaian sampai ke liang lahat.

Mengapa dalam kelong tersebut berpesan kepada kita untuk belajar sejak dini?

Pesan yang mengandung makna perintah untuk belajar di masa kecil (ri wettu baiccu) bukan tidak memiliki tujuan tertentu. Hal ini tentu didasarkan pada sebuah landasan yang kuat antara belajar dan usia. Pada masa kecil waktu yang paling bagus untuk menuntutbelajar atau ilmu pengetahuan, di mana otak anak kecil laksana kertas putih yang siap dibubuhi tinta-tinta warna pengetahuan, serta semangat mengenal dunia dan kehidupan sangatlah tinggi. Belajar sejak dini juga sangat krusial, karena pada usia dini (0-5 tahun) merupakan saat dimulainya pembentuk kebiasaan, mental dan karakter.

Secara saintifik, dalam studi longitudinal perkembangan pada usia 3-6 tahun yang dilakukan oleh Benesse Educational Research and Development (BERD), anak-anak yang menguasai kebiasaan hidup pada usia 3-4 tahun akan memiliki kemampuan sosial emosional yang lebih baik pada usia 4-6 tahun. Kemampuan sosial emosional itu berhubungan dengan perkembangan aspek kognitif, seperti huruf, angka, dan kemampuan berpikir. Oleh karena itu, menanamkan kebiasaan hidup sejak dini sangat penting untuk mengembangkan aspek kognitif dan afektif anak.

Mengapa kita perlu belajar, dan siapa gerangan yang akan merasakan penyesalan (tau na ompori sesse kale) dalam kelong tersebut?

Setiap tindakan masa lalu manusia memiliki konsekuensi logis  inheren dengan masa sekarang dan masa yang akan datang. Penyesalan merupakan sebuah konsekuensi yang melekat pada manusia, karena manusia adalah makhluk tiga dimensi yang hidup di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Dan, penyesalan memang selalu datang belakangan, akan tetap begitu. Penyesalan tidak pernah meletakkan dirinya di depan, kalau di depan namanya bukan penyesalan tetapi antisipasi akan kejadian di masa yang akan datang.

Ragam cara manusia dalam mengekspresikan penyesalan, ada yang sabar dan bahkan tak sedikit pula ada yang diiringi dengan mengutuk diri sendiri. Dan kata yang sering muncul ketika orang menyesal, “andai saja, seandainya, andai saja dulu saya begini begitu”. Tak jarang pula orang-orang yang menyesal begitu inginnya kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahannya, kalau saja kantong ajaib doraemon itu nyata, mungkin di antara orang-orang tersebut akan rela mengeluarkan biaya berapapun untuk membeli mesin waktu doraemon. Namun, hukum alam tidak menyediakan itu, masa lalu tetaplah menjadi milik masa lalu.

Melalui kelong yang sering dituturkan nenek moyang kita secara turun-temurun telah mengantisipasi ragam akibat tidak belajar (ma’guru) sejak kecil, sejak mengenal kehidupan dunia hingga menutup mata dunia fana. Karena orang-orang yang tidak belajar inilah yang akan merasakan penyesalan (tau na ompori sesse kale).  Oleh karena itu, lirik kelong ini sangat visioner dalam menatap kehidupan manusia, meletakkan belajar pada posisi urgen sejak dini, agar kita mampu memaknai dan mencapai kehidupan dunia maupun setelahnya yang bahagia tanpa menyesali kehidupan masa lalu yang sia-sia. Dengan belajar pulalah, kita mampu menghadapi dan mengayuh roda tantangan kehidupan masa kini dan masa akan datang yang penuh ketidakpastian.

Pada empat larik kedua kelong itu melanjutkan pesannya:

Baiccu’ ta mitu na wedding issiseng (Waktu kecillah belajar itu diperlukan), Narekko matoani masussa ni (Kalau sudah besar akan susah), Nasaba Maraja nawa-nawa ni (Karena sudah banyak yang dipikirkan), Enrengnge pole toni kuttu’e (Dan kemalasan juga menghampiri)“.

Waktu kecillah memulai belajar itu diperlukan, kalau sudah tua akan susah, karena sudah banyak yang dipikirkan dan kemalasan juga menghampiri. Pesan ini menegaskan makna pada empat larik pertama sebelumnya, mengapa kita perlu belajar sejak kecil. Lirik ini menyiratkan bahwa ketika manusia telah mencapai usia dewasa atau tua, sudah banyak yang dipikirkan, semangat mengenal kehidupan meredup, kemalasan dan keengganan belajar pun menghampiri karena fondasi kebiasaan belajar sejak kecil tidak dibangun.

Masa-masa kecil adalah masa emas untuk membangun fondasi kebiasan belajar yang kuat.  Lirik ‘baiccu’ta mitu nawedding siseng’ menegaskan kepada kita bahwa masa yang paling bagus untuk memulai belajar adalah masa kecil. Laksana membangun rumah di atas fondasi yang kokoh, yang siap diterpa badai kehidupan. Kemudian, lirik ‘narekko matoani masussani’ menegaskan kepada kita bahwa ketika dewasa baru kita hendak memulai belajar maka akan susah. Karena orang dewasa sudah memikirkan banyak hal seperti masalah karir, ekonomi, anak dan isterinya. Laksana membangun rumah di atas fondasi berpasir, yang tak mampu menahan hempasan ombak kehidupan.

Secara ilmiah, tersirat makna perlunya belajar sejak dini, menurut Elly seorang pakar parenting, bahwa anak usia 2-6 tahun dominan berada pada gelombang theta, dimana dominan terjadi pada seorang mengalami tidur ringan, atau sangat mengantuk. Hal ini menjelaskan mengapa anak-anak cepat sekali dalam belajar, sangat kreatif dan kaya imajinasi, dan mudah sekali menerima informasi apa adanya. Kemudian, anak usia 6-12 tahun dominan berada pada gelombang alpha dengan gelombang otak yang frekuensinya berkisar antara 8-12 hz. Pada titik ini orang akan selalu merasa rileks dan santai, sehingga orang akan dengan mudah menerima sugesti. Sementara, pada usia 10-12 tahun, gelombang otak anak dominan pada gelombang beta, yakni anak dalam kondisi terjaga dan menjalani aktifitas sehari-hari, terutama aktivitas yang menuntut logika dan konsentrasi tinggi. Gelombang beta ini dapat dimanfaatkan oleh orang tua untuk mendidik anak berpikir kritis dan memecahkan masalah.

Pada rentang usia 2-12 tahun inilah saat-saat yang tepat untuk menanamkan nilai positif dan kebiasaan baik secara langsung ke pikiran bawah sadar anak. Apa yang tertanam pada rentang usia tersebut, akan memiliki efek pada kehidupan dewasanya. Dengan demikian, sangat diperlukan semangat dan dorongan orang tua untuk memberikan stimulus positif kepada anaknya, terutama dalam hal menanamkan nilai-nilai kebaikan dan makna kehidupan. Olehnya itu, orang tua juga dituntut untuk belajar agar dapat menjadi patron dan cerminan bagi anak-anaknya.

“Belajarlah di setiap ruang, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, karena ruang dan waktu adalah sekutu terbaik”.

*****

Tradisi belajar atau ‘berliterasi’ dalam arti kekinian, merupakan perkara penting yang telah disampaikan orang tua kita sejak dahulu (tomotatta’ riolo) lewat budaya tutur atau lagu. Pesan belajar ri wettu baiccuta dalam kelong “alama sea sea” sudah dipertegas tomatoatta riolo sebelum mengenal PAUD, program wajib belajar 9 tahun melalui lembaga-lembaga formal yang digaung-gaungkan oleh pemerintah. Belajar sejak usia dini bukanlah perkara atau program baru yang lahir dari kementrian pendidikan atau pemerintah, tetapi merupakan program atau tradisi kearifan tau riolo yang diulang oleh pemerintah dalam bentuk yang baru dengan substansi yang sama.

Meskipun tomatoatta riolo tidak mengenal atau belum mampu mengakses dunia pendidikan melalui fasilitas sekolah-sekolah, tetapi mereka paham betul begitu pentingnya belajar. Sehingga terkadang orang tua yang masih hidup mengatakan kepada anak-anaknya, “asikolako nak’ na makkatutuo ma’guru tabbulu’ idina mai tau matoae dena naengka masikola” (sekolahlah nak dan bersunguh-sungguhlah belajar, terlanjur kita orang tua ini tidak pernah sekolah).

Pentingnya belajar sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang. Belajar seiring diasosiasikan dengan bersekolah, yang sebenarnya merupakan dua hal yang berbeda. Belajar adalah rangkaian aktivitas membaca, menulis, bercerita, diskusi, berpikir, menyelesaikan masalah untuk memperoleh kepandaian atau ilmu dan menemukan hakikat kehidupan. Sementara, sekolah adalah “salah satu” fasilitas yang disediakan untuk belajar, sekolah akan kehilangan fungsi kalau tidak digunakan belajar.

Kadang orang mengatakan bahwa belajar adalah kewajiban orang-orang yang bersekolah, dan yang tidak bersekolah tidak ada keharusan belajar. Tentu ini kalimah tidak benar, karena banyak orang yang lahir pada masa sebelum mengenal sekolah justru menjadi cendekia-cendekia yang masyhur. Bersekolah hanya salah satu langkah formal untuk belajar atau menuntut ilmu, tetapi bersekolah belum tentu benar-benar memanfaatkan sekolah untuk belajar. Belajar bisa di mana saja, di rumah, sawah, gubuk, kebun, hutan sekalipun. Seperti kata Ki Hajar Dewatara “semua tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru”, hal ini menyuratkan bahwa di mana kita berpijak diharapkan dapat memanfaatkan tempat dan keadaan untuk belajar agar ilmu pengetahuan kita bertambah luas, dan dengan siapapun kita berjumpa diharapkan kita bisa memetik ilmu dan mengambil pengalaman dari orang yang dijumpai agar wawasan pengetahuan semakin tajam dan cawan pengalaman semakin luas.

Kadang juga orang mengatakan bahwa orang yang sekolahnya tinggi pasti terpelajar/terdidik. Kalimah ini tidak sepenuhnya benar, sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi merupakan salah satu langkah maju untuk menjadi terpelajar/terdidik, tetapi tidak ada jaminan orang tersebut benar-benar menjadi terpelajar/terdidik. Orang bisa saja terdidik tanpa jenjang sekolah yang tinggi asalkan orang tersebut terus belajar. Banyak contoh yang bisa disaksikan disekitar kita, orang yang sekolahnya tinggi dan menyebut dirinya terpelajar tetapi sebenarnya orang tersebut tidak benar-benar terpelajar. Satu kasus misalnya, orang yang hanya membaca sinopsis buku tertentu kemudian mengatakan buku itu tidak bagus dan “berbahaya” tanpa membaca isi buku secara keseluruhan kemudian melakukan tindakan yang dongo’, ini ciri orang yang sekolahnya tinggi tetapi malas belajar dan ingin mendapatkan legitimasi terpelajar.

Oleh karena itu, belajar adalah kewajiban setiap manusia (bersekolah atau tidak) agar memperoleh kehidupan yang tercerahkan. Seperti pappaseng tomatoata riolo untuk belajar sejak kecil agar tidak menyesal di masa tua. Meski lagu ini menekankan bahwa belajar di masa tua sudah susah, laksana tetesan air menghancurkan kerasnya batu, bukan berarti kita harus berhenti belajar dan hanya terkurung dalam ruang penuh penyesalan yang sesak hingga tak mampu mencari celah bernafas. Namun, penyesalan yang disebabkan kelalaian di masa lalu mesti menjadi pembelajaran dan bahan autokritik untuk perbaikan hidup masa kini dan di masa akan datang, menjadikan hidup tercerahkan, maradde nyawana na maradde nawa-nawana.

Sebagai penutup di penghujung tabayun, mempertegas bahwa merawat tradisi literasi adalah kewajiban setiap manusia yang berakal. Orang tua dahulu sudah menegaskan pentingnya belajar. Belajar yang dimaknai secara luas, belajar dari alam dan manusia. Alam semesta telah menyediakan media-media pembelajaran yang beraneka ragam dan luas, dan manusia sebagai mahluk berakal mampu memproduksi dan mengakumulasi pengetahuan dan pengalaman seluas-luasnya. Belajar bukan saja untuk kepentingan diri, tetapi juga untuk kebaikan sesama manusia, agar memperoleh kehidupan yang tenteram, damai, sejahtera, dan bermakna. Dan, perlu diingat bahwa kewajiban belajar (ma’guru) bukan saja untuk orang-orang yang menempuh jalur jenjang pendidikan formal di sekolah ataupun di perguruan tinggi, tetapi belajar juga wajib bagi orang-orang yang tidak berkesempatan mengikuti wajib belajar di lembaga formal. Semua itu bertujuan untuk menghindari kesia-siaan hidup orang yang dilanda penyesalan akibat tidak pernah belajar, “alama sea sea mua tau na ompori sesse kale”.

“Tradisi tutur dan lagu Bugis memang punya kekuatan penggerak dalam membangkitkan semangat pendengarnya. Pappaseng dengan penalaran kiasan yang mempunyai kekuatan menggerakkan, mendemonstrasikan dan menstimulus pencarian kehidupan hakiki, yang berbeda dengan penalaran modern dan saintifik yang menggerakkan kehidupan mekanistik”.  

Jumardi @Manusia Lasiai

Bumi Panrita
About Bumi Panrita 86 Articles
Manusia Bugis

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*