Lasiai dan Literasi

Adverst

Sabtu, 13 Juli 2019, Kuliyah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin Makassar menggelar dialog literasi di Aula Kantor Desa Lasiai, bekerjasama dengan pemerintah dan pemuda(i) Desa Lasiai, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai. Dialog bertema ‘Legenda Kampung Lasiai Berbasis Kearifan Lokal sebagai Media Literasi bagi Pemuda dan Pelajar’, dihadiri oleh pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum Desa Lasiai.

Tiga pemateri yang memiliki pengalaman di dunia literasi dihadirkan oleh panitia, yakni Zainal Abidin Ridwan selaku Pemimpin Redaksi Sinjai Info sekaligus pendiri Rumah Baca Wanua Sinjai, Syamsul Bahri dari Jurnalis Tribun Timur, dan Jumardi selaku pegiat literasi dan akademisi yang juga Putra Lasiai.

Zainal Abidin Ridwan dalam materinya memberikan gambaran umum tentang literasi, tujuan, dan peran literasi bagi masyarakat. Selain itu, dia juga menyarankan bahwa tugas utama pemuda Desa Lasiai adalah meneliti sejarah Desa Lasiai kemudian menuangkan dalam bentuk karya tulis (buku).

Peran literasi bagi masyarakat khusunya pemuda sangatlah penting, terutama dalam menggunakan media sosial (facebook, instagram, line, dll) secara bijak. Syamsul Bahri menyajikan materi terkait dengan literasi media, bagaimana menggunakan media sosial dengan tepat, peran literasi media bagi masyarakat, dan bagaimana masyarakat melalui media dapat mempromosikan ekonomi kreatifnya. Di samping itu, dia mengajarkan masyarakat bagaimana cara menjadi jurnalis warga (citizen journalism), mewartakan berita-berita penting terkait dengan Desa Lasiai, dan trik mendeteksi berita bohong (hoaks).

Di sela-sela dialog, Ambo Tuo selaku Kepala Desa Lasiai yang sangat inovatif dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan di Desa Lasiai menegaskan, “untuk saat ini pembangunan Taman Baca Masyarakat (TBM) dalam progres, sisa menunggu beberapa hari lagi rampung. Pembangunan fasilitas ini akan menjadi pusat kegiatan pelajar dan pemuda setempat membaca, menulis, berdiskusi, dan kajian. TBM juga nantinya akan dilengkapi wi-fi untuk kemudahan masyarakat meng-update informasi dan mencari materi-materi yang dibutuhkan, seperti men-donwload e-book (buku digital). Selain fasilitas TBM, juga akan dibangun pusat kuliner jenis makanan tradisional (seperti nasu cukka, laha’ bete, dll) masyarakat Desa Lasiai untuk menarik pengunjung dari luar, tentu hal ini secara langsung akan membantu memajukan ekonomi kreatif masyarakat Desa Lasiai.”

“Melalui TBM ini juga, para pemuda Desa Lasiai dapat mengembangkan bakat dan minatnya. Sehingga para pemuda menjadi smart, terutama dalam penggunaan media sosial. Seperti program smart kampung. Tapi, sebelum smart kampung maka warga saya harus smart atau cerdas dulu. Jangan sampai infrastrukturnya ada tapi warga saya tidak bisa memanfaatkannya. Dan yang lebih penting lagi, seperti yang disampaikan Pak Zainal, para generasi Lasiai harus menggali dan meriset sejarah dan kearifan lokal Desa Lasiai melalui literasi ini,” sambungnya.

Instruksi Kepala Desa Lasiai (Ambo Tuo) di sela-sela dialog

Dialog berjalan ramah dan teduh menjelang sore, dan antusias masyarakat menyimak materi penuh takzim, apalagi di sela-sela diskusi banyak pertanyaan, tanggapan, dan saran yang menarik dan penuh semangat untuk berliterasi. Dalam sesi diskusi juga, beberapa pemuda mengusulkan agar fasilitas taman baca nantinya diisi dengan beragam buku-buku baru dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kemudian, ada ide untuk membentuk komunitas literasi.

Dialog ini merupakan kegiatan yang bermanfaat dan menjadi langkah awal bagi masyarakat Desa Lasiai untuk mengembangkan sumber daya manusianya. Apalagi di era digitalisasi dan informasi, di mana penggunaan internet sangat tinggi. Pengguna internet di Desa Lasiai mencapai sekitar 60% dari jumlah penduduk yang didominasi oleh kalangan pelajar dan pemuda. Sebagian besar pelajar dan pemuda memiliki smartphone, tetapi apakah pemiliknya juga smart?

Melalui literasi inilah nantinya akan menjadi tumpuan untuk menjadi masyarakat smart¸ sehingga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan cerdas dan bijak sesuai dengan keahlian dan bidangnya masing-masing. Demikian juga dalam menggunakan smartphone, internet dan media sosial secara bijak dan kritis.  Dan pada akhirnya, masyarakat khususnya pemuda Desa Lasiai menjadi sosok yang gagah dan cakap di dunia maya dan nyata, bukan “gagah di dunia maya, gagal di dunia nyata”.

“Hakikatnya, berbincang tentang literasi sebenarnya kita berbincang tentang kehidupan, berbincang tentang kehidupan kita berbincang tentang kebahagian, berbincang tentang kebahagian kita berbincang tentang tujuan hidup. Untuk memaknai tujuan dan falsafah hidup, berliterasi adalah solusi yang tepat,” terang Jumardi dalam closing statement.

Jumardi, penyajian materi literasi dalam bingkai kearifan lokal dan legenda kampung lasiai

Dan yang terpenting, perlu dipahami bahwa berliterasi tidak hanya untuk yang sekolah atau kuliyah, tetapi juga untuk masyarakat yang tidak sempat melanjutkan pendidikannya. Literasi terbuka untuk siapa saja, karena literasi adalah hak dan kewajiban setiap manusia. Kewajiban ini, al-Qur’an mempertegas dalam surah Al-Alaq ayat yang pertama turun, “IQRA’ bacalah.” Iqra’ dalam konteks ini adalah membaca diri, membaca kondisi sosial masyarakat, membaca alam semesta, dan membaca teks. Oleh karena itu, mengembangkan tradisi literasi (baca dan tulis) merupakan konsep yang tidak saja akan membawa ke jalan yang lurus. Tetapi juga harus dimaknai bahwa aktivitas berliterasi adalah bagian dari perintah Islam yang fundamental.

Salam Literasi, salam Desa Lasiai!!!

Pewarta: Jumardi – Pemuda Lasiai.

Bumi Panrita
About Bumi Panrita 86 Articles
Manusia Bugis

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*