Masjid?

Adverst

Masjid Kubah 99 Menara di area proyek reklamasi CPI. Dok: Ridwan Alimuddin (2018)
Masjid Kubah 99 Menara di area proyek reklamasi CPI. Dok: Ridwan Alimuddin (2018)

Bangunlah tempat ibadah yang megah, maka Tuhan akan menerima setiap doa-doamu.

Mungkin saja itu yang ada dalam benak pikiran para penggagas mega proyek Center Poin of Indonesia (CPI) dengan membangun Masjid 99 Kubah di area reklamasi seluas kurang lebih 150 hektar yang terletak di depan Pantai Losari Kota Makassar. Masjid yang didesain langsung oleh Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat saat ini, kelak akan menjadi masjid termegah di Benua Asia dan ikon wisata religi baru di Sulawesi Selatan. Lokasinya begitu dekat dengan Masjid Terapung Amirul Mukminin Pantai Losari, masjid yang juga merupakan ikon Kota Makassar. Patutlah berbangga penghuni kota ini, dua masjid megah tersebut menjadi tempat beribadah yang nyaman dan menawarkan keindahan panorama Pantai Losari. Seakan ingin menegaskan bahwa, jika kau ingin khuysuk bertemu Tuhan, temuilah di tempat-tempat yang nyaman dan indah.

Masjid 99 Kubah dibangun dibekas tanah tumbuh, dulunya merupakan tempat bermukimnya nelayan tradisional yang disebut dengan Kampung Gusung Tanjung Delta. Dengan alasan bermukim di lahan negara, akhirnya pada Maret tahun 2014 puluhan keluarga nelayan yang tinggal di Gusung Tanjung Delta rumah-rumah mereka dibongkar secara paksa dan dibakar oleh pemerintah untuk pembangunan mega proyek CPI . Kampung yang mereka tinggali sejak tahun 1967 juga merupakan habitat bagi ekosistem bakau dan mangrove yang telah memberikan manfaat ekonomis dan lingkungan  bagi masyarakat nelayan tradisional di Gusung Tanjung Delta.

Tentu menimbulkan tanya, apakah ada dalil dalam Islam yang membolehkan membangun masjid dengan terlebih dahulu menggusur, merusak lingkungan dan menghilangkan mata pencaharian nelayan tradisional? Ataukah masjid tersebut dibangun sebagai strategi meredam amarah masyarakat pesisir menolak mega proyek reklamasi CPI yang ratusan hektarnya akan  dikelola oleh investor untuk membangun kawasan perumahan elit, hotel-hotel bintang lima dan kawasan pusat perbelanjaan berlabel internasional? Sehingga jika kemudian terjadi penolakan proyek reklamasi, maka seolah-olah dibangunlah kesan bahwa mereka yang menolak reklamasi juga menolak pembangunan masjid dan terjadilah penggiringan isu agama yang berpotensi melahirkan konflik horizontal. Di negeri ini, menjadikan isu agama untuk kepentingan elit kekuasaan dan modal adalah senjata yang ampuh.  Sejarah telah membuktikan itu.

Semua manusia yang memiliki keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan tentunya tidak akan menolak pembangunan tempat-tempat beribadah, begitu pun dengan pembangunan Masjid 99 Kubah yang menimbulkan polemik karena berada di kawasan mega proyek CPI. Sekali lagi, bukan pembangunan masjidnya yang menuai penolakan tetapi segala proses yang menggusur ruang-ruang penghidupan masyarakat pesisir dan menimbun laut untuk membangun gedung-gedung komoditas pencakar langit demi sebuah klaim kota dunia  yang sampai detik ini terus mendapatkan penolakan dari masyarakat yang terkena dampak pembangunan.

Akal sehat kita seolah digiring bahwa reklamasi dengan menggusur nelayan dan membunuh mata pencahariannya adalah tindakan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama, asalkan dalam proyek tersebut ada tempat ibadah megah yang juga terbangun. Saya tetiba teringat dengan tulisan cerpen Almarhum Cak Rusdi yang terbit di salah satu media online pada tahun 2016. Cerpen tersebut bercerita tentang kehidupan beragama dalam satu kampung. Demi sebuah kebanggaan mempunyai masjid yang megah dan besar masyarakat berbondong-bondong menggalang sumbangan, tetapi di lain sisi tidak peduli dengan salah satu masyarakat di kampung tersebut yang hidupnya dilanda kemiskinan, jatuh sakit lalu meninggal.

Cak Dhalom salah satu tokoh utama dalam cerpen tersebut yang sebagian besar masyarakat kampung menganggapnya tidak waras mengatakan; “apa sesungguhnya arti masjid bagi kita? Kita lebih sibuk membangun masjid, berdoa di masjid, lalu merasa bertemu dengan Tuhan ketimbang sibuk mengunjungi orang miskin yang membutuhkan pertolongan. Bukankah Tuhan selalu berada di sisi orang-orang yang kelaparan, miskin dan sakit! Kenapa kita tidak menjumpai Tuhan pada orang-orang itu?”

Kembali ke Masjid?

Masjid tidak hanya sekadar tempat yang suci dan mulia bagi manusia untuk mendekatkan diri secara khusyuk dengan Tuhannya tetapi pada zaman Nabi Muhammad S.A.W, masjid juga merupakan ruang sosial yang berperan mewadahi berbagai hal yang berkaitan dengan persoalan keumatan seperti pendidikan, ekonomi, perkara hukum, dan bahkan sebagai pusat perjuangan umat yang kala itu sedang diperangi oleh kaum yang anti terhadap agama Islam. Di Indonesia, Sarekat Islam sebagai salah satu organisasi pergerakan nasional menjadikan masjid-masjid sebagai salah satu ruang konsolidasi  untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dan memperkuat persatuan umat dalam melawan penjajahan pemerintah kolonial Belanda.

Dalam konteks pendidikan, kita tidak bisa melupakan zaman Pemerintahan Bani Umayyah dengan menjadikan Cordoba sebagai ibukota Spanyol. Le Mesquita atau Masjid Agung Cordoba yang dibangun oleh Khalifah Abdurraham III sekitar tahun 786 Masehi menyediakan fasilitas perpustakaan raksasa dengan  beragam koleksi buku agama dan ilmu pengetahuan. Tidak hanya itu, Masjid Agung Cordoba juga memberikan kesempatan kepada anak-anak fakir miskin untuk belajar di sekolah yang ada di sekitar masjid. Tidak heran jika Kota Cordoba mendapat gelar pusat pengetahuan yang melahirkan banyak para ulama, para pemikir, dan para ilmuan yang telah berkontribusi dalam memajukan peradaban Islam.

Tanda tanya besar jika melihat bagaimana peran masjid yang ada di Indonesia saat ini. Di kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat masjid-masjid berubah menjadi ruang yang cenderung intoleran dan ruang untuk memobilisasi kebencian pada kelompok tertentu. Apalagi mendekati pemilihan umum (pemilu) semakin nampak nyata kolaborasi elit politik dan modal, melalui suara-suara “ulama” dengan menjadikan masjid sebagai arena propaganda politik pragmatisme untuk mendapatkan kursi kekuasaan. Bukan hanya  spanduk, baliho dan stiker para politikus yang bertebaran di masjid-masjid tetapi kita bisa melihat dan mendengarkan ceramah-ceramah para “ulama” dengan suara yang lantang menjanjikan surga bagi umat dengan memilih calon pemimpin yang dianggapnya membela Islam, sebaliknya mengkafirkan  mereka yang memilih calon pemimpin yang diklaimnya kafir pula. Bukankah hanya Tuhan yang memiliki otoritas tunggal untuk menilai apakah seseorang itu termasuk dalam golongan kafir atau tidak? 

Masjid yang berfungsi sebagai ruang politik adalah hal yang sering terjadi, tetapi politisasi masjid untuk kepentingan kekuasaan elit politisi dan pemodal justru akan semakin menjauhkan kita dalam memahami nilai-nilai egalitarian Islam pada konteks lebih luas melihat model pembangunan  yang semakin eksploitatif terhadap alam dan manusia. Jadi, apakah kita akan kembali melihat masjid sebagai  rumah Tuhan yang mengayomi manusia? Silakan tafsir sendiri.

Penulis: Muh. Ferdhiyadi N – Pustakawan Ruang Abstrak Literasi (RAL)

Editor: Jumardi @manusialasiai

Bumi Panrita
About Bumi Panrita 86 Articles
Manusia Bugis

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*