Pendidikan Salah Urus?

Adverst

Dok: www.beastudiindonesia.net
Dok: www.beastudiindonesia.net

Hari beranjak pagi di awal Mei. Begitu fajar menggulung layar kemerahannya, pagi pun tersingkap menebar cahaya dengan segenap keindahannya membuat mata mahluk terbangun dan mengungkapkan rahasia mimpinya. Di kaki timur, matahari merayap pelan ke ruang cakrawala menyinari alam yang sunyi di masa paradoks pandemi. Alangkah sia-sianya diriku jika tak menikmati secercah pagi yang ramah ini. Dari arah utara, kulihat pohon-pohon bambu menari teratur dihembus angin semilir. Di depan rumah sambil berjalan menyusuri jalan setapak, aku tertegun menyimak semua keindahan yang dihamparkan tanpa dibayar. 

Setelah menikmati keramahan pagi kurang lebih setengah jam di lingkungan rumah, aku kembali dengan maksud untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda sehabis sahur. Ketika aku sampai di depan pagar rumah, jantungku seakan berpindah tempat melihat seorang kakek tiba-tiba berdiri tegap dengan tongkat di tangan kanannya, menatapku tajam. Aku menggeragap menyaksikan sosok tua renta dengan wajah pucat pasi yang menatapku dari kaki sampai kepala. Keramahan yang kunikmati pagi itu menjelma dalam suasana kemuraman. 

“Anak muda,” katanya memecah kesunyian pagi. “Tahukah kamu, hari ini tanggal berapa?” tanyanya dengan nada tegas. 

“Iya, tanggal dua, Kek,” jawabku. “Bagaimana mungkin aku tidak tahu, inikan awal bulan, detik-detik terima gaji bulanan,” kataku membatin.

Gambaran sosok kakek itu seperti tidak asing bagiku. Wajahnya yang lesuh tapi masih menunjukkan semangat hidup. Aku dibuat penasaran dengan kakek yang dari entah berantah itu, sambil lalu aku mengindentifikasi satu per satu organ-organ yang melekat di wajahnya. “Kakek siapa dan dari mana?” tanyaku, tentunya dengan nada santun meski perasaan masih diselimuti kekagetan. 

“Anak muda zaman sekarang, kakeknya sendiri tidak kenal. Aku ini kakekmu dari wilayah seberang.” Aku terperanjat seketika mendengar jawaban kakek itu. Seumur hidup aku tidak pernah mengenal kakek dalam rupa yang seperti ini. Ayah dari bapak dan ibuku sudah lama meninggal. Nah, ini kakek dari keluargaku yang mana. 

Ah, kakek itu bikin aku semakin penasaran. Sudah tujuh menit aku dan kakek itu berdiri di depan rumah. Aku mulai kasian melihat kakek itu berusaha berdiri tegak dengan lutut yang bergetar, tangan kanannya yang memegang tongkat tampak tidak kuat lagi. “Silahkan masuk ke dalam, Kek,” kataku dengan menunjuk arah pintu rumah. 

“Tahukah kamu, anak mudah, hari ini hari apa?” tanyanya lagi sembari menyusuri ruang teras. Aku memaklumi pertanyaan semacam itu bagi kakek yang sudah tua, rentan terhadap penyakit pikun.

“Hari Sabtu, Kek,” jawabku.

“Saya tahu hari ini hari Sabtu, tapi bukan itu maksud saya?” Kudengar suara yang lemah dan gemetaran mengusik pikiranku. 

***

Di ruang tamu seluas enam kali tiga meter, di sudut kiri terdapat sofa dua dudukan, kupersilahkan kakek duduk di sofa itu. “Silahkan duduk, Kek,” mohonku penuh sopan sebagai anak muda yang masih memegang erat adat istiadat, dan sebagai pemuda yang punya benteng kuat membendung arus modernisasi yang menggerus budaya sopan santun. 

Sikapnya terus terang lugu, wajahnya sedikit kurus dengan garis-garis tipis di beberapa bagian, suaranya bersahabat dan menyenangkan. Di balik kacamatanya, kulihat sorot matanya tulus tapi tajam, bibirnya selalu mengembangkan senyum jenaka, dan kopiah tinggi tergeletak miring di kepalanya. Perasaanku mulai tenang setelah mengamati cermat wujud kakek itu. 

“Apakah kamu sudah tahu, hari ini hari apa?” tanyanya lagi.

“Maksud Kakek apa?” tanyaku balik sembari memikirkan dalam-dalam maksud kakek itu. 

“Hari ini tanggal dua Mei, anak muda, ada perayaan apa hari ini?” suaranya lemah dan bernada gelisah. Aku mencoba mengingat-ingat tanggal, sekilas terlintas dalam ingatanku sewaktu subuh media-media sosialdiramaikan ucapan selamat Hari Pendidikan Nasional.

“Hari Pendidikan Nasional, Kek,” jawabku semangat seperti Archimedes mengucapkan kata ‘eureka’ ketika dia masuk ke dalam bak mandi dan menyadari bahwa permukaan air naik. 

Kulihat kakek itu termenung dengan mata menyalang di balik kacamatanya. Seolah menunjukkan latar belakang hidupnya terpencar melalui raut wajahnya, pendirian yang kokoh dan sikapnya yang gigih. 

“Sebagai bahan refleksi,” katanya memecah keseriusanku dalam mengindentifikasi sosoknya, berharap menemukan titik terang atas pengakuannya sebagai kakekku. Tapi aku tidak menemukan sedikit pun, justru aku dibuat bingung dengan kekaguman yang kutemukan dalam sosok kakek itu. “Apa yang kamu temukan dalam wajah pendidikan Indonesia? apakah ia membaik sejak puluhan tahun lalu? lalu bagaimana pandangan dunia mengenai pendidikan indonesia?” Aku sebagai pekerja kantoran terkejut mendengar rentetan pertanyaan semacam itu dilontarkan tepat di hadapanku, lalu menggelitik pikiranku. 

“Ada urusan apa kakek ini dengan pendidikan?” jtanyaku spontan.

“Kamu jawab saja pertanyaanku, tidak usah bertanya balik.”

Pertanyaannya seolah menunjukkan bahwa ia bukan orang sembarangan. Dari gaya bicara dan bahasanya menunjukkan kalau ia orang intelektual.  Aku sebagai anak kantoran yang pernah kuliyah lebih empat tahun merasa malu kalau tidak menjawab pertanyaan kakek ini. Sebagai manusia yang hidup di era milenial, aku langsung saja cari jawabannya di google tanpa repot-repot berpikir. 

Di pencarian google muncul hasil kurang lebih 72.900.000 laman yang membahas mengenai seputar wajah Pendidikan Indonesia. Dari jutaan hasil itu, saya lebih senang membaca fakta dan data. “Menurut data statistik persekolahan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2017/2018,” jawabku cekatan, “bahwa dari seluruh sekolah di Indonesia, 97.737 ruang kelas mengalami rusak berat, 65.487 ruang kelas rusak total, 939.061 rusak ringan, 129.028 rusak sedang, dan 693.401 dalam kondisi baik. Dari 214.409 sekolah SD/SMP/SM (negeri dan swasta), hanya 144.293 sekolah yang memiliki perpustakaan. Dari 144.293 perpustakaan, 6.959 perpustakaan mengalami rusak berat, 6.019 perpustakaan rusak total, 87.069 rusak ringan, 8.525 rusak sedang, dan 105.837 dalam kondisi baik….

“Ehem,” kudengar kakek berdehem ketika aku menyebut angka fasilitas perpusatakaan. Sejenak aku meliriknya sepintas, wajahnya mengeras, tapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya, lalu kulanjutkan lagi ulasan data statistik yang sempat terjeda.

“Dari 214.409 sekolah SD/SMP/SM (negeri dan swasta), hanya 50.150 sekolah yang memiliki laboratorium. Secara keseluruhan, Kek, kondisi sekolah dan kelas banyak yang tidak memenuhi standar fasilitas, unsur kenyamanan belajar, keamanan (karena kondisi rusak) dan kesehatan murid. Belum lagi persoalan sengketa tanah/bangunan sekolah dengan pemilik lahan yang menyebabkan terhambatnya proses belajar-mengajar. Akses ke sekolah dari rumah murid di daerah-daerah banyak yang terhambat masalah jarak, transportasi, keamanan, infrastruktur (seperti jembatan dan jalan) yang tidak ada atau rusak. Selain itu, buku pelajaran sering tidak terseleksi dengan baik, tidak memenuhi kriteria pedagog yang baik dan kesalahan-kesalahan teknis percetakan. Dan, biaya pendidikan menjadi pemasalahan klasik yang tidak pernah selesai,” jawabku sesekali melirik kakek di hadapanku tampak tidak tenang dengan mata yang kian membelalak. 

“Kamu baca data apa itu anak muda?” tanyanya penasaran.

“Ini data statistik 2017/2018 yang rilis tahun 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” jawabku sambil mencari data terbaru. “Ini salah satu kelebihan Intitusi pemerintah yang bertanggungjawab terhadap masalah pendidikan, merilis ketidakbecusannya dalam upaya pengembangan pendidikan,” gumamku. 

“Pendidikan salah urus,” kata kakek itu dengan nada rendah seakan menyesal mendengar pemaparanku. “Selama puluhan tahun sejak kemerdekaan, pendidikan tidak mengalami kemajuan yang begitu berarti. Salah urus begitu?” ketus kakek itu dengan wajah keras dan memerah. Dari sorot mata dan suara yang berkarakter seakan menonjolkan kecerdasannya, penasaranku pun semakin tak karuan memikirkan siapa sebenarnya kakek yang begitu peduli terhadap pendidikan.

“Benar, Kek, salah urus,” jawabku polos. 

“Lalu berita apa lagi yang kamu temukan, anak muda?” tanya kakek tak sabaran. Aku pun menjawab sembari tersipu malu.

“Pencapaian nilai menurut Programme for Internasional Student Assessment (PISA) pada 2018, Indonesia berada pada posisi 72 dari 77 negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai tersebut cenderung stagnan dalam 10 – 15 tahun terakhir. Adapun di Asia Tenggara, ranking pendidikan Indonesia nomor lima di bawah Singapura, Brunei Darusssalam, Malaysia dan Thailand. Selain itu, Kakek perlu ketahui bahwa minat baca masyarakat Indonesia menurut penelitian dari UNESCO hanya 0,0001% atau hanya satu banding seribu saja masyarakat berminat untuk membaca. Sekarang, Indonesia menempati posisi 60 dari 61 negara dalam peringkat minat baca dunia hanya setingkat lebih tinggi dari Boswana yang ada di Afrika.”

“Miris,” timpal kakek sambil mengeleng-geleng kepala. “Terus bagaimana dengan nasib murid-muridnya?” sambungnya sambil meletakkan kacamatanya di meja. 

“Sesuatu yang sangat memilukan hati,” kataku emosional sebelum menjawab pertanyaanya. “Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017-2018 dari sekitar 30 juta siswa semua jenjang pendidikan, makin tinggi jenjang pendidikan, makin besar angka putus sekolah. Penduduk di perdesaan sebagian besar hanya tamatan Sekolah Dasar dengan persentase sebanyak 32,48%, sedangkan sebagian besar penduduk perkotaan telah mampu menyelesaikan pendidikannya hingga tamat Sekolah Menengah dengan persentase sebanyak 33,67%. Lebih rinci lagi, Kek, berdasarkan laporan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, angka putus sekolah tingkat SD sebanyak 32.127, SMP/Sederajat sebayak 51.190, dan SMA/sederajat sebanyak 209.022. 

Kakek itu meletakkan tongkatnya yang sedari tadi diremuk-remuknya, bergeser ke arahku, lalu berbisik. “Putus sekolah? dalam kondisi bangsa yang kaya dan merdeka seperti ini putus sekolah?” bisiknya dengan suara parau nan tegar.

“Betul, Kek, ada yang terpaksa putus sekolah karena kondisi keluarga dan lingkungan. Mereka putus sekolah karena masalah biaya, ingin membantu orang tua mereka bekerja, akses sekolah yang sangat jauh dari rumah mereka, kondisi jalanan yang tidak menjaminkan keamanan dan keselamatan. Sebagian lainnya putus sekolah karena kondisi lingkungan sekolah, seperti kesulitan dalam mengikuti pelajaran sekolah, faktor kualitas pengajarnya, suasana pembelajaran di sekolah yang tidak kondusif, dan sekolah cenderung tidak menyenangkan bagi murid karena kurikulum yang kaku dan berpatokan pada standar-standar nasional, dengan standar itu menyebabkan siswa tidak naik kelas sehingga menjadi bahan ejeken murid lainnya,” tanggapku.

“Perlu kutambahkan lagi, Kek, sekarang masyarakat dunia termasuk negara kita tercinta ini sedang dibikin panik oleh virus corona. Efek dari masa pandemi ini, semua sekolah dan kampus diliburkan. Meskipun diliburkan, mereka tetap mengikuti pelajaran dengan metode berbeda. Mereka sering menyebutnya kuliyah online atau daring, dan ini menambah lagi runyamnya pendidikan, Kek. Ternyata banyak dari siswa maupun mahasiswa belum siap menerima pola baru itu karena terkendala jaringan yang tidak baik, kuota tidak ada, ada juga yang tidak punya handphone, dan macam-macamlah alasan mereka, bahkan ada yang sampai putus sekolah. Sudah setahun lebih virus ini menghuni bumi pertiwi, selama itu pula penderitaan dalam dunia pendidikan dialami anak bangsa.” 

Kakek itu menatapaku tajam dengan seringai bibir yang meremehkan seraya berkata, “ itu urusan kalian, mau online mau manual, itu hanya metode pembelajaran, bukan akar masalah pendidikan,” katanya membuatku tertunduk patuh.

*** 

Kupandangi lagi kakek itu yang mulai menjauh dariku, sesekali melirik jarum jam yang merangkak ke pukul setengah delapan. Dalam pikiranku terbayang pekerjaan kantorku yang belum selesai. Tapi membincang soal pendidikan di pagi hari jauh lebih menyenangkan, meski fakta pendidikan di negeri masih carut-marut dengan segala alasannya. 

Aku melihat kakek membelakangiku sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke lantai. Lalu mengambil kembali kacamata yang diletakkan di meja, mengusap pelupuk matanya, kemudian mengenakan kacamata dengan gerak yang berwibawa. Tercermin dari ekspresinya yang menonjolkan kemarahan, kegelisahan, dan rasa tak percaya. Sementara, aku masih memikirkan siapa dirinya, mengapa ia begitu bersemangat tapi khawatir tentang wajah pendidikan yang kugambarkan. 

Semangat yang membungkus tubuh yang bungkuk, kekhawatiran yang akut menyelimuti gerak-geriknya. Sesaat kemudian aku teringat dengan foto yang kupajang di kamarku, mirip dengan kakek itu. Secepat Spiderman aku masuk ke kamar mengamati foto yang kumaksud. Dan benar dugaanku, kakek yang sedari tadi adalah Ki Hadjar Dewantara. 

Ki Hajar Dewantara sang pemikir pendidikan yang amat tersohor di negeri ini. Aku juga baru ingat betul foto-foto dan slogan-slogan yang tersebar di media sosial sedari subuh tadi. “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Itulah slogannya yang terucap elok setiap tanggal dua Mei. Paling tidak, lebih separuh masyarakat Indonesia yang mengucapkannya. 

Dalam benakku muncul ketidakyakinan bahwa mereka yang mengucapkan slogan lengkap dengan tampilan bermacam foto Ki Hadjar Dewantara benar-benar paham dan peduli terhadap pendidikan negeri ini, bukan sekedar ikut meramaikan agar terlihat berpendidikan, apalagi hanya dijadikan sebagai perayaan ulang tahunan tanpa makna. Hingga saat ini hanya segelintir yang gemar menyuarakan apalagi mewujudkan secara realitas empirik inspirasi beliau. Inspirasi yang beliau perjuangkan hanya tinggal hiasan kata yang kehilangan ruh, kehilangan relevansi praktis, atau bahkan hanya jadi sekedar untaian kata para pakar pembangunan bidang pendidikan. 

Pada saat aku keluar kamar bermaksud menghampiri dan mencium tangannya, sang tokoh sudah menghilang entah ke mana, persis waktu ia tiba-tiba muncul dari entah berantah. Sampai di sini rasanya dadaku sumpek, jantungku seakan berhenti sepuluh detik. Aku merasa malu telah menceriterakan wajah pendidikan negeri yang muram. Namun menurutku, tak ada yang perlu ditutup-tutupi, toh, ruhnya senantiasa mengikuti dunia pendidikan yang begitu ia cintai, bahkan akan tetap gentayangan hingga ia puas dengan apa yang telah ia perjuangkan puluhan tahun lalu.

Kedatangan dan kepulangan sang tokoh itu membuatku merasa terayun-ayun dengan damai di angkasa pagi yang lembut, hingga kudapati diriku masih berdiri di depan pagar rumah. Lalu indra dan suaraku pulih kembali, sementara beban berat tanggung jawab seketika memenuhi jiwaku. Saat itu pula aku terbangun dari dialog imajinerku. 

Dari dialog imajiner, perlu kita ingat kembali bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Faktanya bahwa pendidikan merupakan masalah klasik yang selalu membelit sistem pendidikan di Indonesia. Rendahnya anggaran pendidikan diyakini sebagian kalangan sebagai penyebab utama buruknya pendidikan nasional. Kemudian diperparah oleh kondisi darurat yang terjadi lantaran banyak kasus korupsi yang berkaitan dengan anggaran pendidikan. Fakta-fakta pendidikan jelas membuat kecewa banyak pihak terutama Ki Hajar Dewantara dan founding fathers bangsa yang semenjak negara berdiri, sudah menanamkan semangat dan tekad untuk memperjuangkan keadilan bagi seluruh warga negara, termasuk di dalamnya untuk memperoleh hak pendidikan yang layak dan mumpuni. Seperti diketahui, cita-cita luhur tersebut dituangkan ke dalam rumusan mukaddimah UUD 1945 sebagai salah satu tujuan didirikannya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Jumardi

Teman Belajar Ruang Abstrak Literasi

Bumi Panrita
About Bumi Panrita 86 Articles
Manusia Bugis

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*