Tolak “Sogokan”, Manre Dipenjara?

Adverst

Foto: Pak Manre
Foto: Pak Manre

Bumipanrita – Covid-19 membuat topeng manusia kelihatan aslinya. Manusia seperti terang-terangan memperlihatkan wajah keasliannya “buas”. Tapi tidak sedikit, Covid-19 juga membuat nurani manusia bercahaya. Nurani itu kokoh tak goyah. Walau diiming-imingi sejumlah uang.

Keteguhan hati itu diperlihatkan oleh masyarakat Pulau Kodingareng. Mereka protes kepada pemerintah yang memberiklan izin tambang pasir laut di wilayah tangkap nelayan. Maka, sekitar 300 nelayan dengan kapal tradisional meminta kapal penambang pasir untuk berhenti beroperasi.

Suatu siang di tanggal 9 Juli, pemerintah Kelurahan Kodingareng melaksanakan musyawarah bersama warga. Pada kesempatan itu, warga dengan tegas meminta pemerintah untuk menolak tambang pasir. Terutama pada wilayah tangkap nelayan tradisional.

Salah satu yang getol menolak adalah Pak Manre. Sikap tegas dan apatisnya terhadap “sogokan” membuatnya bernasib sial. Pada 16 Juli lalu, Manre didatangi seseorang dari perwakilan sebuah perusahaan. Setelah berbasa-bagi, Pak Manre diberikan amplop berisi uang. Pak Manre tegas menolak.

Alasannya, Pak Manre tidak rela tempatnya menggantungkan hidup dirusak oleh tambang pasir. Pak Manre memang nelayan kecil tapi bukan berarti tidak berpikir ke depan. Apalagi untuk hidup anak cucunya kelak. Maka sebagai bentuk protes, Pak Manre merobek dan membuang amplop tersebut.

Perlawanan Pak Manre tidak berhenti sampai disitu. Matahari belum terlalu tinggi pada keesokan harinya. Tampak samar-samar, sebuah kapal kembali melakukan aktivitas tambang. Maka ratusan warga bersolidaritas, termasuk Pak Manre. Mereka melakukan aksi damai dan meminta untuk menghentikan aktivitas tambang.

Aksi itu kemudian mengusik sejumlah pihak. Maka dicarilah cara untuk menekan perlawanan warga. Maka dibuatlah delik untuk menjerat secara hukum. Satu cara yang paling “populer” di negeri ini untuk membungkam perlawanan dan kebebasan berekspresi. Jadilah Pak Manre jadi sasaran.

Karenanya, 19 Juli Pak Manre menerima surat panggilan polisi nomor: LP-A/283/VII/2020/SPKT dari Dit Porairud Polda Sulsel. Panggilan Pak Manre ini sebagai saksi atas dugaan tindak pidana pengrusakan mata uang negara berdasarkan pasal 35 ayat (1) undang undang nomor 7 tahun 2011.

Pak Manre tidak langsung menanggapi panggilan tersebut. Walau dia berencana akan menghadiri panggilan itu. Alasannya, pertama sebagai nelayan, kalau tidak melaut maka dapur tidak berasap. Sebab apa-apa di pulau itu harus dibeli termasuk beras.

Kedua, perjalanan dari Pulau Kodingareng itu tidak seperti di darat. Tiap saat ada transportasi. Pilihannya pun beragam. Mulai dari pete-pete hingga transportasi kekinian dengan menggunakan smartphone. Jangan harap mendapat ini di pulau. Sebab transportasi satu-satunya hanya kapal sekali sehari.

Di lain pihak, para emak-emak di Pulau Kodingareng juga resah. Sudah beberapa hari tangkapan para suami berkurang. Secara otomatis membuat pikiran meradang. Maka mereka juga tidak tinggal diam. Maka 23 Juli, protes dinaikkan ke level gubernur. Ramai-ramailah mendatangi rumah jabatan.

Sebab api di dapur pada rumah-rumah mulai meredup. Maka untuk menjaga agar api tidak mati, secara konstitusional negara telah menyiapkan metodenya. Menyampaikan aspirasi secara damai. Ratusan emak-emak inipun berorasi dan menyampaikan dampak tambang pasir tersebut.

Sangat disayangkan. Pak Gubernur Sulsel tidak berada ditempat. Pak Gubernur sedang berada di luar daerah. Maka mesti juga dimaklumi. Gubernur itu bukan hanya memimpin Kota Makassar. Tapi juga ada daerah lain. Mulai dari utara hingga ke selatan yang jumlahnya 24 kabupaten dan kota.

Di pulau, Pak Manre tetap melaut. Pak Manre harus terus melempar jaring. Berharap ikan-ikan hinggap sehingga melonggarkan harap. Besok masih harus makan. Begitu juga, lusa, pekan depan, bulan depan, tahun depan, dan seterusnya. Sebagai nelayan hanya itu dipikirannya.

Rupanya laporan terhadap Pak Manre terus jalan. Sehingga pada 30 Juli, Pak Manre mendapat panggilan kedua bersama dua orang nelayan lainnya. Statusnya masih saksi. Walau tidak pernah sekolah hingga perguruan tinggi, Pak Manre rupanya tahu harus berbuat apa.

Pak Manre paham betul bagaimana menjadi seorang negarawan walau tidak pernah duduk di kursi empuk di Senayan atau jajanan kuliner di Istana Negara. Karenanya, pada 3 Agustus Pak Manre bersedia meng-iya-kan panggilan dari penegak hukum.

Maka pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, Pak Manre sudah rapi. Karena kemeja tidak punya, maka dipilihlah pakain yang paling baik. Sebuah kaos berkerah. Bukan Polo, Uniqlo atau Lacoste. Hanya kaos berkerah biasa. Tanpa merek. Sebab hanya itu yang sesuai isi kantong.

Sebagai seorang laki-laki gagah mewakili stylish versi nelayan, Pak Manre diperiksa selama 4 jam di Kantor Dit Porairud Polda Sulsel. Setelah pemeriksaan itu, Pak Manre kembali ke Pulau Kodingareng. Pak Manre harus kembali melaut. Anak dan istrinya butuh makan.

Berselang satu pekan kemudian, Pak Manre yang sudah bersiap-siap kembali melaut, dia kemudian menerima tamu sekaligus mendapat kabar buruk. Pak Manre harus kembali diperiksa pada hari itu juga. Statusnya pun rupanya telah naik menjadi tersangka.

Karena mendadak, juga faktor transportasi, Pak Manre tidak memenuhi panggilan itu. Keesokan harinya, Pak Manre bersama sebelas nelayan lain kembali mendapat surat panggilan klarifikasi. Jadwalnya ditentukan dua hari yakni 12 Agustus dan 13 Agustus.

Tak kunjung mendapat jawaban yang jelas, pada 13 Agustus, emak-emak dari Pulau Kodingareng kembali meminta hak konstitusionalnya. Mereka meminta bertemu dengan Gubernur Sulsel. Kembali para emak-emak bersama anak-anak yang dibawa serta memutuskan untuk menginap di depan Kantor Gubernur Sulsel.

Keesokan harinya, saya mendatangi emak-emak ini. Saya sempat berbincang kepada beberapa orang. Dan hanya satu permintaannya yakni menghentikan tambang pasir laut. Dengan wajah lelah dan sorotan mata merah, emak-emak ini tegas menolak ada tambang pasir di wilayah tangkap mereka.

“Kami memang miskin butuh uang untuk makan. Tapi kami ke sini (Kantor Gubernur) bukan untuk minta dikasihani dengan diberikan uang atau sumbangan. Kami hanya ingin tambang pasir itu dihentikan,” kata seorang emak-emak dengan derai air mata. Digendongannya, seorang bayi tersenyum manis sekali.

Pada hari yang sama. Pak Manre yang baru saja tiba di Dermaga Kayu Bangkoa yang terkenal itu, langsung diciduk oleh anggota Dit Porairud Polda Sulsel tanpa seragam dinas. Pada saat ini Pak Manre belum mendapat surat panggilan keduanya sebagai tersangka.

Karena merasa ada yang ganjal, Pak Manre menolak. Tapi kemudian dipaksa dan ditunjukkan secara sekilas panggilan keduanya sebagai tersangka. Setelah penangkapan itu, Pak Manre tidak bisa kemana-mana lagi. Pak Manre langsung tahan di Rutan Polda Sulsel.

Jika ditelisik lebih dalam terkait undang undang nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang yang disangkakan kepada Pak Manre, hal ini tidaklah jelas. Pertama, Pak Manre kuat dugaan menolak pemberian itu karena motifnya yakni menolak tambang pasir yang berpengaruh terhadap penghidupannya sebagai nelayan.

Kedua, apa yang dilakukan oleh Pak Manre itu berdasarkan hak konstitusionalnya berdasarkan pasal 27 ayat (2) Undang Undang Dasar 1945 bahwa “tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”.

Tambang pasir itu berpengaruh terhadap penghasilan Pak Manre sebagai nelayan tradisional. Ketika laut di sekitar wilayah tangkap nelayan itu rusak. Maka habitat ikan juga ikut rusak. Ketika itu rusak maka ikan akan pergi dan menjauh.

Maka nelayan seperti Pak Manre harus mencari tempat yang lebih jauh untuk menangkap ikan. otomatis biaya akomodasi juga akan membengkak. Jika tidak punya tabungan untuk membiayai itu, maka habis sudahlah pencarian Pak Manre. Makanya Pak Manre menolak dengan tegas. Apalagi ini pekerjaan satu-satunya.

Kupikir cukup demikian, salam cinta, aku mencintaimu.

Penulis: Sofyan Basri (Pustakawan Ruang Abstrak Literasi)

Bumi Panrita
About Bumi Panrita 86 Articles
Manusia Bugis

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*